Spasibo
Beberapa hari berlalu tanpa kabar dari Rustam. Parkiran motor GHFI terasa lebih luas dan sepi tanpa deru motor kopling itu. Nur mencoba mengalihkan gelisah di hatinya dengan bekerja lebih keras. Bau bumbu sosis yang biasanya tercium gurih, kini terasa hambar di hidungnya.
"Makmano, Nur? Udah cukup tabunganmu untuk daftar kuliah?" tanya Wulan sambil menepuk pundak Nur, memecah lamunan.
Nur yang sedang melipat mukena, menghirup aroma sisa detergen di kain itu. "Alhamdulillah, sudah. Tapi aku khawatir, Lan."
"Khawatir apo? Si Rustam?" goda Wulan.
Nama itu membuat jantung Nur berdesir hebat, seperti tersengat listrik kecil. "Aku khawatir idak biso bagi waktu antara kuliah dan kerja."
Wulan cuma nyengir. "Ooo... Aku kiro khawatir si abang Rusia itu idak balik lagi."
-----
Kamis ke-2 Nur mencoba fokus kerja, tapi setiap kali melihat boneka Matryoshka di lokernya, dia teringat tulisan tangan Rustam.
-----
Suasana ruang pengolahan Kelompok A tampak suram, Pak Slamet beserta anak buah nampak kewalahan.
Pak Budi: "Gimana, Pak Slamet? Apa mesin kita bisa kembali normal?"
Pak Slamet menghela nafas: "Untuk kembali seperti kondisi sebelum rusak, saya rasa nggak bisa, Pak Budi. Mesin ini sudah tua."
Pak Budi nampak cemas, makin jengkel dia saat melihat Bu Dea melintas di kejauhan sambil berdiskusi dengan Pak Hadi.
Pak Budi mengeluh: "Orang kantor memang nggak pernah peduli dengan kesulitan kita. Tahunya cuma grafik dan data."
Pak Slamet tak berkomentar.
-----
Di sisi lain Bu Dea dan Pak Hadi bicara sambil berjalan di koridor gedung kantor.
Dea: "Apa boleh buat, Pak Hadi. Saya juga harus realistis. Pesanan-pesanan itu sudah saya batalkan. Maaf, hanya ini yang bisa saya lakukan."
Pak Hadi berhenti diikuti oleh Bu Dea. Pak Hadi: "Anda sudah melakukan yang terbaik, Bu Dea. Semoga kita bisa terlepas dari krisis ini."
Bu Dea lega, Pak Hadi memahami cara berfikirnya.
Pak Hadi: "Kita rapat intern sekarang!"
Bu Dea: "Baik, Pak."
-----
Pak Hadi memanggil semua manajer ke ruangan rapat intern, wajahnya tegang. Satu per satu petinggi GHFI muncul, tak terkecuali Bu Dea yang terlihat sangat layu. Rapat pun dimulai.
Bu Dea: "Saya mengaku salah, Pak Budi. Saya terpengaruh berita 'viral', memaksa naikkan kapasitas produksi, sehingga mesin rusak."
Pak Budi: "Makanya, Bu. Dunia pemasaran juga harus liat-liat kondisi, dong. Nggak semua keinginan konsumen harus kita turuti."
Pak Hadi: "Sudah, Pak Budi. Kita ini satu tim. Nggak ada pemasaran, mau produksi sekian banyak juga buat apa?"
Pak Budi kali ini diam.
Pak Hadi: "Gimana investor dari Rusia itu?"
Di dalam ruang rapat, udara terasa berat dan dingin oleh AC, tapi keringat dingin tetap membasahi pelipis Bu Dea. Suara detak jarum jam di dinding terdengar seperti palu yang menghakimi.
Bu Dea: "Itu dia, Pak. Perwakilannya datang tepat pada saat mesin bermasalah. Padahal Nur sudah saya perintahkan untuk alihkan dia, tapi ya itu, kehebohan justru membuat dia ingin tahu."
"Jujur itu pahit, Bu Dea," sindir Pak Budi, suaranya parau dan tajam. "Mungkin mereka sekarang sedang di pesawat menuju Jawa, cari pabrik yang mesinnya nggak batuk-batuk kayak punya kita."
Bu Dea tertunduk. Ia meremas pulpennya sampai buku jarinya memutih.
Pak Hadi: "Dengan kata lain, investor batal?"
Bu Dea tak tahu harus menjawab apa, dia sama sekali tak bisa memastikan.
-----
Nur yang sedang bertugas di depan melihat sebuah sedan hitam mengkilap berhenti. Sopir langsung membukakan pintu, seseorang keluar dari dalam mobil, ia adalah Sergei Muratovich Valeev (47 tahun / berjas / necis). Aroma parfum maskulin yang elegan—campuran kayu cendana dan dinginnya salju—seolah merayap keluar saat pintu satunya terbuka. Ternyata Sergei bersama...
Rustam.
Kali ini Rustam bukan dengan jaket kulit yang berdebu, melainkan jas hitam yang pas di tubuh tingginya. Di sampingnya, Sergei (yang adalah mentor Rustam) berjalan dengan langkah penuh wibawa.
Saat mereka melintas, tatapan Rustam dan Nur bertemu. Hanya sedetik.
Nur: "Ya, Allah. Investasi bakal batal. Gimana ini?"
Nur menyusul mereka, ikuti mereka dari belakang.
-----
Rustam masuk ke ruang rapat sebagai penerjemah dan pendamping. Tatapannya ke Nur sekilas, tapi ada binar ketenangan di sana.
Sergei yang adalah perwakilan VSD bicara: "Saya sudah membaca laporan Rustam. Laporan itu menyebutkan mesin GHFI memang rusak, tapi laporannya juga memuji 'integritas karyawan' di sini."
Sergei sempat melirik sebentar ke Nur yang tertunduk.
Sergei melanjutkan: "Di dalam bisnis, kejujuran adalah segalanya. Kami dari VSD justru akan mempercepat investasi. Bukan hanya suntikan dana, tapi kami akan mengirimkan mesin 'Sausage Filler' terbaru dari Jerman ke Gelumbang sebagai bentuk kemitraan jangka panjang."
Wajah-wajah tegang para petinggi GHFI berubah jadi lega. Nur tidak menyangka, ternyata Rustam menyelamatkan pabrik. Tatapan mereka bertemu dalam senyum.
-----
Kemudian di kantin karyawan yang mulai sepi, hanya ada suara kipas angin berputar malas. Rustam duduk berjarak dua jengkal dari Nur.
"Kalau aku bohong," suara Rustam rendah, mantap, "mereka akan pikir mesin kita baik-baik saja dan tidak akan ada bantuan. Kejujuran adalah cara tercepat memperbaiki keadaan, Nur."
Nur akhirnya mengerti. Rasa getir di lidahnya berganti manis. "Terima kasih, Rustam."
"Pozhaluysta," jawab Rustam pendek.
"Kamu ngomong apa?" Nur mengerutkan kening, lucu.
"Pozhaluysta itu 'sama-sama'. Kalau 'terima kasih', bilangnya 'Spasibo'."
Nur mencoba melafalkannya, lidahnya terasa kaku. "Spa-si-bo, Rustam."
Rustam tersenyum—kali ini bukan senyum kaku, tapi senyum tulus yang membuat lesung pipinya mengintip sedikit. "Pozhaluysta, Nur."
-----
Selanjutnya di parkiran, matahari sore yang berwarna jingga menyiram segalanya dengan warna emas. Sebelum masuk ke mobil, Rustam menyodorkan sebuah buku kecil. Kamus saku (Rusia - Indonesia) yang baunya masih bau kertas baru.
"Untuk partner diskusi yang paling jujur," baca Nur dalam hati saat mobil itu menjauh.
Nur memeluk kamus itu di dadanya. Bau sosis, bau aspal, dan bau keringat pabrik sore itu terasa jauh lebih indah dari biasanya.
BERSAMBUNG...
=====
JUDUL: HALAL HEARTBEAT
JUDUL EPISODE 5: SPASIBO
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar