Kode Enkripsi




Pagi, tepatnya 3 hari setelah "Senin Hitam", alias Kamis ke-7, mesin Jerman itu tetap membisu. Karyawan mulai berbisik-bisik, mengira mesin mahal itu rusak total.


Karyawan 1: "Mesinnya buatan mana, sih?"


Karyawan 2: "Khabarnya sih dari Jerman."


Karyawan 1: "Berarti orang asing yang suka jalan sama Nur waktu itu orang Jerman dong, ya?"


Karyawan 2: "Pasti. Mesinnya aja dari Jerman, ya orang Jerman-lah. Masak orang Arab."


Yang lain pun tertawa. Mereka baru selesai memakai sarung tangan karet, hairnet dan helm safety untuk kemudian kembali bekerja ke mesin lama Kelompok A di gedung pengolahan. Mereka tidak sadar bahwa Nur sejak tadi mendengar percakapan tersebut, hati Nur pilu. Untung Wulan menghibur Nur.


Wulan: "Mentang-mentang mesinnyo dari Jerman, mereka pikir si jangkung itu dari Jerman. Sok tahu."


"Sudahlah, Wulan. Biarke bae. Dak semua urusanku di pabrik ini mereka perlu tahu." Nur pergi tinggalkan Wulan.


Wulan: "Kasihan kamu Nur. Cowok pengecut memang mak itu, suka lepas tanggung jawab."


Wulan lantas bergabung dengan Kelompok A.


-----


Nur tiba di Kantin yang sepi, hanya pengurus kantin yang berada di sana. Nur memandang ke meja tempat dia dan Rustam duduk pertama kali beberapa minggu lalu. Nur mendekat ke meja itu, lantas duduk. 


Sementara itu TV kabel di kantin menampilkan berita dalam Bahasa Inggris tentang Sergei yang tertangkap, masih hangat.


Nur dalam hati, "Padahal, masalah mesin Jerman itu ada di pusat data di Rusia yang memutus akses digitalnya."


Nampak jelas di layar TV dimana Sergei sedang diborgol sambil menatap ke arah kamera.


-----


Siangnya, di ruangan manajer pemasaran, Bu Dea sedang bersama Nur.


Bu Dea: "Apa kamu terhubung dengan Rustam?"


Nur: "Belum, Bu. Dia benar-benar hilang."


Bu Dea: "Visa dan Izin tinggal Rustam di Indonesia disponsori oleh perusahaan Sergei. Jika Sergei jatuh, status Rustam jadi ilegal."


Nur tak tahu hendak berkomentar apa. Bumi yang ia pijak serasa runtuh, Rustam yang mulai ada hatinya, sekarang menjadi seperti seorang pengkhianat. Tiba-tiba ada chat ponsel Nur. 


Bu Dea: "Siapa?"


Nur terkejut, itu Rustam yang dia tunggu-tunggu.


Nur: "Rustam, Bu. Dia ada di sini, tapi minta dirahasiakan."


Bu Dea: "Temui dia. Ibu gak akan bilang siapa-siapa."


Secercah harapan tergambar di wajah Nur saat meninggalkan ruangan tersebut.


-----


Sore itu, hujan mengguyur Gelumbang. Nur berdiri gelisah di dekat gudang sparepart yang letaknya paling pojok dan gelap.


Pintu gudang berderit. Rustam muncul dari bayang-bayang. Wajahnya pucat, tapi matanya tetap tajam.


Rustam: "Aku punya kodenya. Aku bisa hidupkan mesin ini tanpa perlu akses dari Rusia lagi. Tapi aku butuh Pak Slamet."


Nur lega. Kini harapan tempat dia bekerja kembali ada.


-----


Singkat kata hari sudah malam dan pabrik telah sepi. Di dalam Gedung Pengolahan yang sunyi, hanya diterangi lampu remang, Rustam bekerja cepat. Pak Slamet memandangi kabel-kabel yang dihubungkan Rustam ke laptopnya dengan takjub.


Rustam: "Saya bypass sistem keamanannya. Mesin Jerman ini sekarang 'mandiri'. Tidak butuh sinyal dari Moskow lagi."


Klik. Layar monitor mesin menyala hijau. Mesin menderu sangat halus, seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Pak Slamet hampir melompat kegirangan.


Pak Slamet: "Hidup! Gila kamu, Tam. Jenius!"


Tapi kegembiraan itu singkat. Bu Dea masuk dengan wajah serius. "Rustam, kamu harus sembunyi. Orang imigrasi mulai mencari data karyawan asing yang berafiliasi dengan Sergei. Kalau kamu tertangkap, kamu dideportasi dan pabrik ini bisa terseret masalah hukum karena mempekerjakan orang dari perusahaan bermasalah."


Rustam menatap Nur, lalu menatap mesin yang baru ia hidupkan. 


Pak Slamet: "Jangan, Bu. Rustam tidak boleh pergi. Mesin ini butuh perawatan khusus. Ini teknologi terbaru, saya belum begitu paham."


-----


Masih malam itu juga, Pak Hadi, Bu Dea, Pak Slamet dan Nur berkumpul di ruang rapat intern. Mereka bicara berdekatan, bisik-bisik, menandakan bahwa ini merupakan rahasia antar mereka saja.


Pak Hadi: "Masak Pak Slamet gak bisa operasikan mesin itu? Prinsipnya kan sama?"


Pak Slamet: "Prinsipnya memang sama, Pak Hadi. Tapi kecanggihan-nya beda. Maka saya butuh Rustam agar selalu ada di sini, kalau sewaktu-waktu ada masalah."


Bu Dea: "Pak Slamet benar. Kita nggak mungkin menyerahkan Rustam, sebab dia satu paket dengan mesin itu."


Pak Hadi berfikir sejenak, memandang Nur sesaat, "Tapi ingat. Ini hanya rahasia kita berempat. Gak boleh ada yang tahu Rustam di sini."


Bu Dea, Pak Slamet dan Nur mengangguk paham.


-----


Mess karyawan di blok paling ujung—yang sudah lama kosong dan tertutup pohon bambu—dibersihkan secara diam-diam. Di sana, Rustam akan tinggal. 


Bu Dea: "Kamu nggak apa-apa kan tinggal di sini sementara waktu, Rustam?"


Rustam: "Gak masalah, Bu."


Nur: "Kalau ada perlu apa-apa, chat saja."


Pak Slamet: "Iya, Tam. Jangan sungkan. Nanti aku bawakan baju cadangan buat kamu ganti".


Rustam mengangguk.


----


Keesokan harinya, tepatnya hari Jumat ke-7, pabrik kembali gempar. Karyawan bersorak karena mesin Jerman bisa jalan lagi. Mereka mengira Pak Slamet berhasil memperbaikinya sendiri.


Pak Budi (Manajer Produksi) sampai heran: "Hebat kamu, Met! Mesin canggih begini bisa kamu jinakkan."


Pak Slamet cuma nyengir sambil melirik Nur: "Ya... ada bantuan 'doa' dari anak-anak, Pak."


-----


Siang harinya, Nur membawakan rantang ke arah Mess tua di pojok pabrik. Ia harus berputar lewat jalur belakang supaya tidak terlihat karyawan lain.


Di dalam Mess yang pengap, Rustam sedang duduk di lantai sambil membaca manual mesin. Dia sudah berganti pakaian menjadi seragam teknisi warna biru kusam, lengkap dengan topi dan masker.


Nur: "Ini... makan siang buat kamu. Aman, kok. Aku bilangnya buat kucing gudang."


Rustam membuka masker, tersenyum kecil. "Terima kasih, Nur. Maaf kalau aku jadi merepotkanmu."


Nur duduk di ambang pintu, matanya menatap Rustam dengan tulus. "Kamu sudah selamatkan pabrik ini. Sekarang giliran kami yang menjagamu. Tapi... gimana dengan kuliahmu?"


Rustam menghela napas. "Untuk sementara, aku harus menghilang. Aku bukan lagi mahasiswa S2, aku cuma 'hantu' di pabrik sosis ini."


Nur: "Bukan hantu, Rustam. Kamu itu... rahasia paling berharga di GHFI."


Mata mereka bertemu. Di kejauhan, suara mesin Jerman itu terdengar ritmis, membuktikan bahwa meski di dunia luar namanya sedang dicari, di dalam pabrik ini, Rustam adalah jantung yang membuat segalanya tetap berdetak.


BERSAMBUNG...

=====

JUDUL: HALAL HEARTBEAT

JUDUL EPISODE 7: KODE ENKRIPSI

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halal Heartbeat

Rahasia di Balik Bambu