Rahasia di Balik Bambu
Hari demi hari berganti, tak terasa ini adalah Senin ke-10.
Siang itu, Wulan tidak sengaja melihat Nur berbelok ke arah Mess tua di belakang rumpun bambu sambil membawa rantang. Insting "detektif" pabriknya bekerja. Ia membuntuti Nur, lalu mendapati pemandangan yang hampir membuatnya pingsan: Rustam, si pria Rusia jangkung, sedang duduk di sana mengenakan seragam teknisi kusam.
Wulan: "Astaghfirullah! Jadi selamo ini...?"
Nur hampir menjatuhkan rantangnya. Rustam refleks berdiri, kepalanya hampir membentur langit-langit Mess yang rendah.
Nur: "Wulan! Ssst! Jangan keras-keras suaramu!"
Setelah dipaksa masuk dan dijelaskan duduk perkaranya oleh Nur (sambil disumpah di bawah ancaman "potong gaji" fiktif), Wulan akhirnya bergabung dalam lingkaran rahasia itu.
Wulan: "Oke, oke. Aku tutup mulut. Tapi asli gilo nian, ini mirip drama pelarian di film-film. Terus, si Abang Rusia ini nak sampai kapan di sini?"
-----
Suasana di Gedung Administrasi masih tegang. Pak Hadi baru saja selesai menerima telepon dari pihak kepolisian setempat yang menanyakan status agen VSD.
Pak Hadi: "Saya sudah bilang, Rustam sudah mengundurkan diri dan kemungkinan sudah kembali ke Moskow lewat jalur pribadi."
Telpon ditutup. Bu Dea menarik napas lega, tapi tangannya masih gemetar. "Pak, kalau sampai ketahuan kita menyembunyikan dia, izin usaha pabrik kita taruhannya."
Pak Hadi menatap ke luar jendela, ke arah mesin Jerman yang bekerja tanpa henti di bawah. "Mesin itu adalah napas pabrik ini sekarang, Bu Dea. Tanpa Rustam, mesin itu cuma besi mati. Kita berhutang integritas padanya. Selama dia tidak keluar dari area belakang, dia aman."
-----
Malam harinya, giliran Pak Slamet yang datang ke Mess rahasia. Ia membawa beberapa komponen sensor cadangan.
Pak Slamet: "Tam, mesinnya lancar. Tapi ada masalah di bagian 'sealing' otomatis. Saya nggak paham kodenya."
Rustam segera membuka laptopnya. Cahaya layar memantul di wajahnya yang kini mulai ditumbuhi janggut tipis. "Itu karena tekanan udara di sini berbeda dengan di Jerman, Pak. Kita harus 're-calibrate' manual."
Sambil Rustam bekerja, Pak Slamet menyodorkan kopi hitam. "Kamu nggak kangen rumah, Tam?"
Rustam terdiam sejenak. Jarinya berhenti di atas keyboard. "Rumah saya sekarang sedang berantakan, Pak. Sergei itu seperti paman saya sendiri. Saya kecewa... tapi di sini, saya merasa berguna."
-----
Minggu demi minggu terus berlalu. Keberadaan Rustam di Mess bambu itu mulai menciptakan rutinitas baru bagi Nur. Setiap jam istirahat sore, Nur akan menyelinap lewat jalur belakang gedung pengolahan, membawa buku-buku kuliahnya.
Mereka duduk di teras Mess yang tersembunyi. Nur belajar Akuntansi, Rustam mengawasi sambil sesekali mengajari Nur cara menghitung depresiasi mesin dengan logika S2-nya.
Nur: "Lihat, aku dapat nilai A untuk tugas manajemen operasional. Berkat penjelasanmu soal 'flow' produksi tempo hari."
Rustam tersenyum, menyandarkan punggungnya di dinding papan Mess. "Kamu pintar, Nur. Kuliahmu harus selesai."
Nur menatap kamus saku yang kini sudah mulai lecek karena sering dibaca. "Aku lagi belajar kata baru. 'Nadezhda'."
Rustam menoleh, alisnya terangkat. "Harapan?"
Nur mengangguk. "Selama mesin Jerman itu berbunyi, aku punya 'Nadezhda' kalau suatu saat kamu bisa jalan di parkiran depan lagi tanpa harus pakai masker."
Tiba-tiba, suara langkah sepatu keras terdengar di dekat rumpun bambu. Langkah itu bukan langkah Nur, Wulan, apalagi Pak Slamet. Itu suara sepatu pantofel yang tegas.
Nur dan Rustam membeku.
Suara Pak Budi (Manajer Produksi) terdengar dari balik semak: "Met? Pak Slamet! Saya tahu kamu sering ke arah gudang belakang sini. Mana laporan inventaris mesin Jerman itu?"
Nur menahan napas, tangannya refleks memegang lengan baju Rustam. Rahasia mereka berada di ujung tanduk.
BERSAMBUNG...
=====
JUDUL: HALAL HEARTBEAT
JUDUL EPISODE 8: RAHASIA DI BALIK BAMBU
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar