Sebuah Pertanyaan Untuk Halal
Tetap di hari Kamis ke-1, Nur dan Rustam saling menggenggam, entah angin apa yang membuat genggaman itu menjadi lama. Waktu pun serasa berhenti, Wulan yang melihat hal tersebut langsung "berdehem".
Nur dan Rustam tersadar, seketika itu juga keduamya segera "melepaskan tangan" karena sadar belum muhrim, menambah kecanggungan yang manis setelah ketegangan mereda. Nur merasa kehangatan tangan Rustam seolah masih tertinggal di jemarinya.
Wulan pura-pura nggak lihat, "Mesin berasap, kok di sini malah adem, ya?"
Nur dan Rustam menjadi canggung karena malu.
-----
Karena kehebohan akibat ada masalah di gedung pengolahan, Rustam pun lolos masuk gedung, padahal Nur sudah berusaha menahannya agar tidak ke gedung itu. Rustam melihat mesin sausage filler yang sudah tidak berasap, dan kali ini sedang dibenahi oleh beberapa karyawan teknisi. Tanpa sengaja kaki Rustam menginjak sosis yang baru jadi tergeletak di lantai. Nur yang ada di sampingnya tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa khawatir.
Rustam: “Apakah ini masih halal & traceable?”
Suara Nur serasa tercekat di tenggorokan: "M-mm-masih, kok. Ini produk gagal. Harus dimusnahkan."
Nur mengambil sosis gagal itu dari tangan Rustam, lantas sembunyikan di balik badan.
Rustam: "Halal, bukan cuma bahan, tapi proses juga."
Rustam langsung memotret kejadian itu, Nur spontan menghalangi, sebab ini sama saja mendokumentasikan keburukan pabrik tempat dia bekerja.
Nur: "Plis! Jangan di-foto."
Karena Nur memohon dengan amat sangat, Rustam pun tak tega. Bu Dea melihat apa yang dilakukan Nur, dari kejauhan. Bu Dea tersenyum bangga. Muncullah kemudian Pak Budi, "Ayo karyawan, kumpul di lapangan!".
-----
Singkat kata para karyawan berkumpul, tak terkecuali Nur dan Wulan. Di hadapan mereka ada Pak Hadi yang memimpin, lalu di samping kanan ada Bu Dea, sebelah kiri Pak Budi. Pak Slamet dan Bu Rina juga ada, tapi posisi mereka agak jauh dari Pak Hadi.
Pak Hadi, "Untuk sementara, produksi kita di kelompok A di-stop dulu. Sambil menunggu tim teknisi yang dipimpin Pak Slamet membereskan mesin."
Pak Hadi menoleh ke Pak Slamet sesaat, Pak Slamet mengangguk.
Pak Hadi melanjutkan, "Yang lain tetap bekerja seperti biasa."
Nur melihat Bu Dea tertunduk, seperti seorang terdakwa. Sementara Pak Budi tersenyum, meski kesal dengan keadaan.
-----
Lantas di kantin karyawan, Rustam duduk sendirian sambil memandang hasil jepretannya di layar kamera. Dia menatap foto Nur, entah kenapa ada yang lain di hatinya, "Cewek ini, tulus."
Tepat pada saat Rustam memindahkan kamera dari pov-nya, tiba-tiba Nur sudah duduk di hadapan Rustam. Nur terlihat sedih.
Rustam: "Sudah selesai tadi?"
Nur: "Iya. Kamu masih mau melaporkan kejadian tadi ke Bos-mu?
Rustam menghela nafas, ia nampak mempertimbangkan, "Entahlah! Aku, belum tau."
“Aku mau jujur sama kamu. Tadinya, tugasku memang alihkan kamu agar tidak ke gedung pengolahan. Tapi..."
Rustam diam, ia siap mendengar kelanjutannya. Pemuda ini sama sekali tidak menampakkan ekspresi marah.
Nur melanjutkan: "Aku gak berhasil. Kamu masuk juga ke gedung itu, foto foto. Yaaa, aku ini, siapa sih? Karyawan biasa, cuma lulusan SMA. Beda sama kamu yang S2.”
Rustam: "Nur. Kamu baik. Tapi di dunia halal, niat baik saja tidak cukup.”
Kalimat itu seperti menusuk hati Nur, seakan menunjukkan bahwa dia tidak becus dalam bekerja. Di luar dugaan, Nur mengembalikan boneka Matryoshka ke Rustam.
Rustam kaget, "Itu... Untuk kamu."
Nur: "Buat apa? Aku rasa, aku tidak layak menerima ini."
Nur meletakkan boneka tersebut ke atas meja. Rustam merasa ada yang sesak di dadanya, boneka itu dikembalikan seperti simbol bahwa mereka sulit menyatu. Bu Dea muncul, memberi kode agar Nur ajak Rustam ke ruangannya.
-----
Selang beberapa saat kemudian di ruangan Bu Dea, kali ini Rustam dan Nur sudah berhadapan dengan Bu Dea.
Bu Dea, "Rustam! Kami minta maaf atas kejadian hari ini. Ini semua salah saya, karena memaksa agar kapasitas produksi ditingkatkan."
Bu Dea melirik kode ke Nur. Nur langsung bicara, "Inilah kenapa kami butuh investasi tambahan."
Bu Dea lega, ternyata Nur nyambung dengan arah pikirannya, "Betul. Mesin-mesin pabrik ini banyak yang usianya sudah tua, bahkan lebih lama dari Nur kerja di sini. Kami benar-benar butuh peremajaan, jika investasi itu terealisasi."
Rustam tak tahu mau bicara apa, sempat dia menoleh ke Nur seakan minta pendapat, tapi kemudian, "Saya akan pertimbangkan dulu ya, Bu. Soalnya Volga Sausage Distributors mempercayakan segalanya ke saya."
Mendengar itu mata Bu Dea mendelik, bahkan tatapan itu diarahkan ke Nur yang ikutan cemas, takut investasi gagal.
-----
Azan Ashar sudah selesai, Nur usai sholat lantas ke teras untuk memakai sepatu. Tiba-tiba Rustam muncul dan duduk di dekatnya, tapi berjarak.
Rustam: "Nur! Maafkan aku. Jika bikin kamu, marah."
Nur cuek sambil pasang sepatu: "Aku tidak marah. Aku membela pekerjaanku. Pabrik ini adalah hidup dan matiku sekarang."
Rustam yang bimbang menjelaskan, "Aku belum tahu, laporan ini akan membuat investasi lanjut atau tidak."
Nur makin kesal dibuatnya. Rustam pergi, tapi Nur diam-diam menatap kepergiannya. Tanpa sadar, ternyata boneka Matryoshka ada di samping Nur. Ya, Rustam meninggalkannya, memang untuk Nur seorang.
-----
Selanjutnya di parkiran, Rustam sudah siap di motor. Nur mengejarnya, hendak mengembalikan boneka. Tapi...
Rustam: “Senin… kalau Allah izinkan.”
Nur tak sempat mengembalikan boneka itu, Rustam keburu pergi.
-----
Sore di bangku taman buffer pabrik, Nur sendirian. Pabrik sunyi, mesin diam. Boneka Matryoshka di tangannya.
Nur dalam hati: "Kenapa boneka ini harus untuk aku? Apa maksudnya?"
Kamis berakhir tanpa jawaban, tapi Senin masih dijanjikan.
BERSAMBUNG...
=====
JUDUL: HALAL HEARTBEAT
JUDUL EPISODE 3: SEBUAH PERTANYAAN UNTUK HALAL
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar