Manusia Tanpa Negara



Pak Budi berdiri hanya berjarak dua meter dari rumpun bambu yang menutupi Mess tua. Nur menahan napas sampai dadanya terasa sesak. Tangannya masih mencengkeram lengan seragam teknisi Rustam.


"Pak Slamet!" teriak Pak Budi sekali lagi.


Tiba-tiba dari arah gudang samping, Pak Slamet muncul sambil membawa oli mesin dan lap kotor. "Eh, Pak Budi? Nyari saya?"


"Kamu ngapain di area belakang sini, Met? Bau pesing, banyak nyamuk," gerutu Pak Budi sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya.


"Ini Pak, ngecek pipa pembuangan yang mampet. Takutnya limbahnya lari ke arah bambu-bambu ini," jawab Pak Slamet tenang, meski jantungnya berdegup kencang.


Pak Budi melihat ke arah Mess tua sejenak, tapi syukurlah, seleranya yang tinggi terhadap kebersihan membuatnya enggan mendekati bangunan reyot itu. "Ya sudah, cepat ke ruangan saya. Laporan inventaris mesin Jerman itu harus rapi. Ingat, itu aset paling mahal kita sekarang."


Setelah langkah Pak Budi menjauh, Nur lemas dan terduduk di kursi kayu tua. Rustam hanya terdiam.


-----


Malam harinya, di dalam Mess yang hanya diterangi lampu kuning 5 watt, Rustam menyalakan TV tabung kecil yang dibawakan Pak Slamet. Antenanya harus digoyang-goyang sedikit agar gambarnya tidak "semut".


Muncul berita internasional. Wajah Sergei Muratovich Valeev terlihat di balik jeruji besi di Moskow. Ia nampak lebih kurus, tapi sorot matanya tetap tajam.


Reporter bertanya dalam bahasa Rusia (diterjemahkan di layar): "Bagaimana dengan asisten Anda yang dikabarkan menghilang di Indonesia? Apakah dia membawa lari uang perusahaan?"


Sergei menatap kamera dengan dingin, seolah tahu Rustam sedang menontonnya di suatu tempat yang jauh.


"Saya bekerja sendiri. Tidak ada asisten, tidak ada asisten teknis. Semua transaksi di Indonesia saya lakukan lewat perantara digital yang anonim. Mengenai mesin sosis... itu adalah kesalahan administratif, tidak ada mesin yang pernah dikirim secara resmi."


Sergei tersenyum tipis ke kamera. Sebuah senyum yang berarti: "Kamu bebas, Rustam. Kamu tidak ada dalam catatan kejahatanku."


Rustam mematikan TV. Ruangan seketika sunyi. Hanya suara jangkrik dari balik rumpun bambu yang terdengar.


-----


Siang lagi, Nur datang membawa teh hangat melihat Rustam sedang menatap paspor Rusia-nya.


"Apa katanya?" tanya Nur pelan.


"Sergei melindungiku," suara Rustam parau. "Tapi dengan harga yang mahal. Dia menghapus namaku dari sejarah perusahaannya. Di mata pemerintah Rusia, aku tidak pernah bekerja untuk VSD. Di mata pemerintah Indonesia, aku tidak pernah masuk sebagai tenaga ahli."


Rustam meletakkan paspor itu di meja. "Paspor ini sekarang cuma sampah, Nur. Aku tidak bisa pulang, tidak bisa lapor ke kedutaan, dan tentu saja... aku tidak bisa buat KTP di sini. Aku resmi jadi hantu."


Nur mendekat, duduk di bangku kayu di depan Rustam. "Tapi kamu nyata, Rustam. Kamu ada di sini."


Rustam menatap tangannya yang kasar karena bekerja di mesin. "Di dunia modern, Nur, manusia tanpa dokumen itu tidak ada. Jika aku sakit, aku tidak punya jaminan. Jika ada razia, aku tidak punya identitas. Aku terjebak di antara sosis dan besi Jerman itu."


Nur mengambil kamus saku pemberian Rustam, membukanya di halaman yang kosong, lalu menuliskan nama: "Rustam Ilmirovich Kazan".


"Setidaknya namamu tertulis di sini," kata Nur dengan mata berkaca-kaca. "Bu Dea dan Pak Hadi sedang cari cara lewat jalur 'belakang' di kantor imigrasi, tapi katanya sulit karena Sergei sudah memutus semua kabel aksesnya."


Rustam berdiri, berjalan ke arah jendela yang ditutupi kain sarung. "Mungkin ini takdirku. Di Rusia aku dianggap tidak ada, di Indonesia aku bersembunyi. Tapi selama mesin itu masih berputar, aku tahu aku masih hidup."


Nur bangkit hendak keluar, namun terhenti di ambang pintu, "Kamu bukan cuma hidup, Rustam. Kamu bertahan. Dan aku nggak akan membiarkan 'hantu' sehebat kamu hilang begitu saja."


Nur menatap punggung Rustam yang lebar namun nampak kesepian. Di luar, suara mesin Jerman itu terdengar stabil, seolah-olah pabrik ini tidak pernah mengalami badai besar sebelumnya.


Rustam menoleh, tersenyum tipis. "Besok Kamis, Nur. Kamu ada ujian tengah semester?"


Nur mengangguk pelan. "Iya. Doakan aku ya, hantu pabrik."


Rustam tertawa kecil—suara yang kini menjadi musik favorit Nur di tengah bisingnya pabrik. "Aku akan berdoa. Di sini, di sela-sela uap sosis dan suara besi Jerman itu, aku akan selalu berdoa."


Nur melangkah keluar, menutup pintu kayu itu perlahan, menyembunyikan kembali keberadaan pria Rusia itu dari dunia luar. Ia berjalan melewati rumpun bambu, kembali menuju riuhnya lini produksi, di mana sosis-sosis "Payo!" terus mengalir keluar dari mesin yang kini menyimpan rahasia terbesar mereka.


Di bawah langit Kabupaten Gelumbang yang mulai meredup, Nur meremas kamus sakunya. Dia tahu, Senin dan Kamis tidak akan pernah sama lagi. Rustam mungkin tidak punya paspor, tidak punya KTP, dan tidak punya status di mata dunia. Tapi bagi Nur, Rustam punya tempat yang paling aman: di sini, di jantung PT Gelumbang Halal Food Industries.


Setidaknya, untuk saat ini.


SEKIAN.

=====

JUDUL: HALAL HEARTBEAT

JUDUL EPISODE 9: MANUSIA TANPA NEGARA

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halal Heartbeat

Rahasia di Balik Bambu

Kode Enkripsi