Goyang Sosis Viral
Kamis-nya, Bu Dea heboh. Sebab kunjungan anak SMP hari Senin lalu berujung viral. Anak-anak itu ternyata bikin "goyang sosis viral" di sekolah habis dari pabrik.
HP Bu Dea bergetar terus, notifikasi bertumpuk, video diputar dengan suara cempreng anak SMP. Bu Dea menggeser layar ponselnya, notifikasi masuk tanpa henti.
Lantas dengan tergesa-gesa Bu Dea melapor ke Pak Hadi Wijaya (50-an tahun, General Manager).
Bu Dea: "Pak! Sosis kita viral. Saya kewalahan menanggapi permintaan."
Pak Hadi masih belum nyambung. Bu Dea menunjukkan bukti video di hape-nya.
“Ini baru dari Ogan Ilir, Pak. Ini Prabumulih. Ini… Astaghfirullah, sudah ada yang pakai backsound remix.”
Pak Hadi, "Kita harus rapat dadakan sekarang!"
-----
Singkat kata, orang-orang penting GHFI sudah berkumpul. Mereka sekarang berada di ruang rapat intern. Di sana ada Pak Hadi, Bu Dea, lalu ada Pak Budi Santoso (47 tahun, Manajer Produksi), kemudian Pak Slamet (46 tahun /Manajer Teknik) dan Bu Rina (44 tahun / Manajer Keuangan).
Intinya, Bu Dea sebagai manajer pemasaran meminta kapasitas produksi harian ditingkatkan, sebab ini permintaan karena sosis mereka viral.
Pak Budi: "Gak bisa begitu, Bu Dea. Kapasitas produksi gak bisa ditingkatkan tiba-tiba, tanpa infrastruktur pabrik yang memadai."
Bu Dea menoleh sepintas ke Pak Hadi, "Tapi ini peluang, Pak Budi. Kapan lagi pabrik kita jadi pembicaraan orang banyak. Sekarang saja sudah jelas, permintaan sudah se-Sumsel. Satu provinsi, Pak. Bukan hanya Kabupaten Gelumbang."
Ruang rapat terasa dingin oleh AC, tapi nada suara Pak Budi justru semakin panas. “Mesin bukan manusia, Bu Dea. Dia nggak bisa dipaksa viral. Suhu motor penggerak gak boleh melewati batas aman.” Pak Budi mengetuk meja pelan.
-----
Sementara itu di kantin karyawan, Viral-nya sosis GHFI sampai di TV kantin. Anak-anak SMP di layar TV tertawa sambil mengayun-ayunkan sosis seperti mikrofon. Beberapa karyawan ikut tertawa dan berjoget. Nur cuma menggigit ujung sosisnya pelan. Rasanya tetap enak, tapi entah kenapa ada getir di lidahnya. Nur melihat Bu Dea yang khawatir usai rapat. Bu Dea kasih kode, agar Nur ke ruangannya.
-----
Tak berselang lama di ruangan Bu Dea, ia nampak kelelahan sehabis rapat.
Bu Dea: "Nur! Hari ini kan Rustam akan datang ke pabrik. Ibu boleh gak minta tolong ke kamu?"
Nur: "Iya, Bu?"
Bu Dea: "Kamu alihkan dia dari Gedung Produksi. Ajak kemana kek, keliling pabrik."
Nur: "Tapi, Bu. Kunjungan Rustam hari ini masih fokus ke bagian pengolahan."
Bu Dea: "Iya, ibu ngerti. Cuma Ibu sedang khawatir, sebab rapat tadi belum menemukan solusi. Ini semua gara-gara 'goyang sosis viral' yang lagi rame di TV."
Nur tampaknya mengerti, "Baik, Bu."
-----
Pendek kata Rustam sudah datang di parkiran. Nur coba alihkan pembicaraan, "Kita ke masjid aja, yuk! Sebentar lagi sholat Zuhur," seolah kalimat itu juga ditujukan ke dirinya sendiri.
Rustam: "Tapi... Kemaren kan...?"
Tak sempat kalimat Rustam selesai, sebab Nur sudah pergi tinggalkannya. Mau tak mau Rustam menyusul.
-----
Suasana teras masjid berasa tenang, di momen itu, Rustam memberi hadiah satu boneka Matryoshka ke Nur.
Rustam bilang "Ini simbol Rusia, untuk kamu."
Nur belum langsung terima, masih heran dengan pemberian Rustam, "Untuk aku?"
Rustam mengangguk, lantas memutar dan buka boneka itu perlahan. “Di dalam satu, ada yang lain. Seperti keluarga. Atau… niat.”
Nur tidak menjawab, tapi jarinya otomatis merapikan jilbab. Beberapa saat kemudian, Nur lantas menjelaskan investasi butuh milyaran rupiah untuk mesin baru agar tetap halal & traceable. Nur pun menambahkan duduk persoalannya ke Rustam, terkait permintaan yang banyak gegara "goyang sosis viral". Intinya, itulah mengapa pabrik butuh investasi tambahan. Obrolan mereka terhenti saat azan Zuhur berkumandang.
-----
Ternyata perseteruan di ruang rapat sebelumnya belum berakhir. Bu Dea dan Pak Budi lanjut ribut di gedung pengolahan.
Bu Dea, "Ini benar-benar gawat, Pak Budi. Konsumen sampai mau beralih ke merek lain, kalau kita gak menambah kapasitas produksi."
Pak Budi, "Ibu ini gimana, sih? Kapasitas produksi saja yang dipikirkan. Bahaya, Bu Dea. Saya takut mesin-mesin kita overload."
Suara mesin berdengung mulai tidak stabil, bau rempah campur panas, Wulan & karyawan pakai masker & baju putih lihat dari jauh.
-----
Di sisi lain, mobil-mobil box yang membawa barang distribusi keluar loading dock tanpa henti hari itu. Sosis merek "Payo!" buatan pabrik menempel di box mobil. Rustam foto-foto salut. Malah di satu kesempatan, Rustam menyuruh Nur bergaya dengan latar belakang pabrik.
Nur: "Jangan, ah. Malu."
Rustam: "Tidak apa-apa. Ini buat aku pribadi."
Nur: "Iiih kamu. Gak mau, ah."
Jpret! Pada saat Nur ngambek, Rustam memotret-nya. Terang Nur sewot.
Nur: "Hapus, nggak?"
Nur memburu kamera Rustam, tapi Rustam langsung kabur. Nur mengejarnya.
-----
Lantas di gedung pengolahan, Pak Budi mendapat laporan dari anak buah. Mesin ada indikasi overload.
-----
Sedangkan di ruangan Pak Hadi, dia sedang bersama Bu Dea. Tiba-tiba Pak Budi masuk dalam keadaan panik...
Pak Budi, "Pak Hadi! Mesin indikasi overload. Kita gak bisa menambah kapasitas, seperti yang saya bilang."
Pak Budi menoleh sepintas ke Bu Dea dengan kesal.
Pak Hadi, "Apa gak bisa..."
Belum selesai Pak Hadi menanggapi, interkom Pak Budi berbunyi. Terdengar suara di seberang, "Pak! Mesin rusak, keluar asap!"
Pak Hadi, Bu Dea dan Pak Budi tegang.
-----
Pada saat itu juga di ruang produksi, sausage filler mendengung tidak wajar, suaranya parau, seperti orang batuk dipaksa bicara. Bau besi panas mengalahkan aroma rempah, lalu asap abu-abu menyembur. Alarm bunyi, karyawan panik lari ke pintu darurat, termasuk salah satunya Wulan.
-----
Pada saat yang sama di halaman pabrik, Rustam menolak untuk menghapus foto Nur. Nur malu, masih berusaha merebut kamera Rustam. Langkah kaki Nur menggema di lantai beton. Bau daging olahan bercampur besi panas menyusup ke hidung.
Nur: “Hapus!”
Rustam tertawa singkat, napasnya terdengar berat. “Nanti.”
Namun tiba-tiba karyawan berlarian keluar Gedung Pengolahan, ada juga Wulan. Tawa Nur langsung membeku saat mendengar suara sirine pabrik yang memekakkan telinga.
Nur: "Ado apo, Wulan?"
Wulan: "Mesin pengolahan kito berasap. Aku takut."
Nur kaget, refleks pegang tangan Rustam, begitu juga Rustam. Mereka spontan bertatapan. Wulan yang wajahnya hitam sedikit akibat asap pun terpukau melihat Nur dan Rustam.
Nur baru sadar tangannya dingin saat Rustam menggenggamnya. Tidak ada yang bicara, bahkan alarm pabrik terdengar jauh.
BERSAMBUNG...
=====
JUDUL: HALAL HEARTBEAT
JUDUL EPISODE 2: GOYANG SOSIS VIRAL
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar