Sosis Senin Kamis



Siti Nurhaliza (19 tahun / Nur / Humas & Tour Program  di bawah Manajer Pemasaran) sedang memandu beberapa murid SMP yang sedang study tour ke PT Gelumbang Halal Food Industries (GHFI). 


Nur menjelaskan kepada anak-anak tersebut, bahwa GHFI menghasilkan 2 jenis produk, antara lain:

a. Daging Olahan Masak,

b. Daging Olahan Camilan.


Daging olahan masak hasil dari GHFI seperti: bakso, nugget sosis, burger, smoked beef dan kornet. Untuk daging olahan camilan GHFI hanya berfokus di sosis.


Nur: "Semua produk kami certified halal MUI, proses disembelih sesuai syariat, dan tidak ada kontaminasi babi."


Bau rempah dan asap kayu manis samar-samar tercium dari ruang pengasapan di sebelah. Mesin penggiling daging berdengung pelan di kejauhan, seperti irama pabrik yang tak pernah berhenti.


Salah seorang murid bertanya: "Apa bedanya sosis 'daging olahan masak' dan 'daging olahan camilan'"?


Nur menjelaskan: "Sosis yang olahan masak, itu berarti perlu dimasak lagi di rumah. Seperti dibikin sop, ditumis, atau mungkin digoreng. Kalau yang camilan, itu bisa langsung dimakan, tanpa perlu dimasak lagi."


Study tour murid-murid SMP itu berakhir dengan para siswa/i mendapat bingkisan berupa sosis camilan. Ada yang disimpan buat nanti di rumah, ada yang main pedang-pedangan pakai sosis, ada juga langsung makan. Mereka tampak senang.


Guru pengawal menghampiri Nur sambil jabatan tangan: "Mbak Nur dari bagian Humas, ya? Pintar sekali menjelaskan."


Nur: "Terima kasih, Bu."


Guru: "Hari ini benar-benar pengalaman berharga bagi anak-anak."


Nur tersenyum lega.


-----


Setelah itu Nur dipanggil ke ruang kantor Bu Dea (Manajer Pemasaran / 46 tahun). 


Bu Dea: "Hebat kamu, Nur. Belum satu tahun kerja di sini, sudah fasih menjelaskan ke anak-anak SMP itu."


Nur, "Terima kasih, Bu Dea."


Bu Dea, "Kepala sekolah-nya sampe nelpon ke Ibu, bilang, anak-anak muridnya senang dengan cara kamu menjelaskan produk dari pabrik kita."


Nur mengiyakan lagi dengan mengangguk.


Bu Dea, "Sekarang ada tugas baru buat kamu. Walau cuma lulusan SMA, kamu kan lumayan bahasa Inggris. Kita akan kedatangan tamu orang asing. Mau-nya Ibu, kamu yang handle dia. Gimana? Kamu siap?"


Nur agak kaget mendengar penjelasan Bu Dea, dia belum memutuskan apakah sanggup, atau tidak.


-----


Sebuah motor kopling muncul di parkiran GHFI, pengemudinya tinggi sekali, tak wajar untuk hitungan tinggi orang Indonesia kebanyakan. Saat helm dibuka, rambut cokelat gelap sedikit acak-acakan karena angin, matanya biru kehijauan langsung menatap Nur. Tingginya 189 cm membuat Nur (tinggi badan 167 cm) harus mendongak sampai lehernya terasa pegal hanya untuk menatap mata pria itu. Saat pandangan mata mereka bertemu, jantung Nur tiba-tiba berdegup lebih kencang dari biasanya.  


Nur (dalam hati): "Astaghfirullah… Ganteng nian."


Pemuda itu tersenyum ke arah Nur.


Nur buru-buru menundukkan pandangan, jemarinya meremas ujung jilbabnya. "Astaghfirullah, fokus Nur, fokus," batinnya, meski wajahnya mulai terasa panas.


Nama pemuda itu adalah Rustam Ilmirovich Kazan (Rustam), mahasiswa pasca sarjana Universitas Sriwijaya (UNSRI) yang berusia 25 tahun.


Nur "mungil" pakai seragam pabrik + helm safety menyambut Rustam "tinggi" yang masih pegang helm dengan jaket kulit motor. Nur bicara dengan kemampuan bahasa Inggris-nya, tapi Rustam malah membalas dengan bahasa Indonesia meski terasa kaku. 


-----


Singkat kata di kantin pabrik, Rustam menjelaskan bahwa dia ditugaskan perusahaan Rusia, Volga Sausage Distributors (VSD), spesialis distributor sosis. Sambil kuliah S2 Bahasa Indonesia di UNSRI, Rustam bikin esai tentang GHFI sebagai semacam due diligence informal. VSD lagi jajaki kerjasama ekspor sosis halal dari Indonesia.


Mereka duduk di meja kantin yang sederhana, aroma sosis goreng renyah dari dapur tercium kuat. Nur menyodorkan segelas teh hangat.


Nur: "Oh! Jadi kamu muslim juga ya?"


Rustam: "Iya. Saya, muslim sejak lahir. Bapak saya, muslim. Ibu saya, muslim. Kakek dan Nenek saya, muslim. Kami keluarga muslim, sudah turun-temurun."


Di meja di hadapan Rustam ada sosis camilan yang disediakan. 


Rustam berucap lirih: "Bismillāhirraḥmānirraḥīm".


Rustam menggigit sosis itu perlahan, renyah di luar, juicy di dalam. Matanya membesar lagi, seolah tak percaya ada sosis halal seenak ini. Nur tanpa sadar menahan napas menunggu testimoni si calon investor.


Rustam (kaku tapi antusias): "Ini… enak sekali. Tidak berminyak. Rasa rempahnya tulen. Di Rusia, sosis kami lebih… berat." 

 

Nur tersenyum: "Kami pakai bumbu asli Indonesia. Halal dan bikin ketagihan!"


-----


Kemudian di Gedung Produksi Utama Pengolahan Daging, udara dingin dari ruang pendingin menyergap. Suara pisau stainless dari mesin pemotong daging terdengar ritmis, sementara pekerja berbaju putih dan masker sibuk mengisi adonan ke mesin pengisi sosis (sausage filler).  


Rustam memperhatikan dengan serius, sesekali mencatat di ponselnya.  


Rustam: "Prosesnya… bersih. Sangat rapi."  


Nur: "Alhamdulillah. Itu standar halal kami. Semua harus traceable dari peternakan sampai jadi produk."


Rustam: "Apa perusahaan juga punya peternakan?"


Nur: "Ada perusahaan lain yang memang dikhususkan untuk peternakan sapi, ayam, bahkan ikan. Kalau kami, hanya pengolahan bahan mentah ke bahan jadi."


Rustam: "Di Rusia, sosis kami banyak pakai daging babi. Babi, haram. Sapi, halal. Saya ingin belajar tentang 'halal' dari Gelumbang."


"Kalau boleh tahu, kenapa harus Gelumbang?" Tanya Nur.


"Kabupaten Gelumbang, adalah bagian dari Indonesia. Dan Indonesia, adalah negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia." Jelas Rustam.


Wulan (22 tahun / teman pabrik tapi bagian produksi) yang sedang bekerja melihat Nur-Rustam dari jauh.


Rustam: "Menurut kamu. Apa... Kapasitas produksi perlu meningkat?"


Nur: "Untuk lebih pasti, nanti bisa tanya ke manajer bagian produksi. Tapi setahu saya, untuk meningkatkan kapasitas, butuh tambahan investasi lagi."


-----


Sore pun tiba, kunjungan Rustam di pabrik selesai. Nur mengantarkan ke parkiran lagi. Rustam bilang, dia akan rutin ke pabrik tiap hari Senin dan Kamis. Jadi mereka janjian Kamis akan ketemu lagi. 


Saat Rustam menyalakan motor, angin sore menerpa wajah Nur. Bau knalpot bercampur aroma sosis yang masih menempel di bajunya. Nur melambai pelan, dan Rustam balas dengan anggukan kaku tapi hangat.


Rustam pergi dengan motornya, Bu Dea memandangi Nur yang melepas kepergian Rustam.


-----


Selanjutnya di ruangan kantor manajer pemasaran, kali ini Nur sudah berdua dengan Bu Dea.


Bu Dea, "Iya. Rustam memang orang Rusia. Kalian berdua tadi lucu. Yang satu tinggiii, kamu-nya mungil. Kayak pasangan di drama Korea, deh!" 


Nur tersenyum geli.


Bu Dea, "Rencananya pabrik kita akan mendapat suntikan investasi dari pengusaha Rusia. Rustam adalah tangan kanannya. Dia akan terus ke sini, sampai investasi itu terealisasi. Tujuannya, kita akan ekspor produk kita ke Rusia nantinya."


-----


Lantas di masjid pabrik yang sejuk, suara azan Ashar baru saja usai. Aroma karpet sajadah dan minyak kayu putih samar tercium. Nur dan Wulan yang memakai mukena bersiap hendak sholat.


Wulan (menggoda sambil menyikut): "Ciyeee, matonyo tadi nempel terus ke si tinggi itu. Jangan-jangan lah naksir ke investor Rusia itu? Tinggi, ganteng, muslim pulo. Paket komplit!"  


Nur (wajah memerah, buru-buru geleng): "Apo dio kau ni, Wulan? Cuma kerjaan bae! Lagipulo… dio orang asing. Kito sambut baek lah, namonyo bae tamu."  


Tapi dalam hati, Nur tak bisa bohong: bayangan senyum kaku Rustam tadi masih terngiang, membuat dadanya berdebar tak karuan. 


Nur menarik napas dalam, coba menenangkan debaran yang tak kunjung reda. Senin dan Kamis… dua hari nanti sampai ketemu lagi.


BERSAMBUNG...

=====

JUDUL: HALAL HEARTBEAT

JUDUL EPISODE 1: SOSIS SENIN KAMIS

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Halal Heartbeat